Explore Zona Dewasa

Cerita Seks Tante Yanti Payudara Montok 2

 Tradingan.com - Kali ini apa yang dimaksudkannya adalah dia langsung mengambil penisku dan mulai menjilati seputar batangku, sambil sesekali mengulum kepalanya. Kalau sudah sampai di sini rasanya aku bisa menebak ke mana kelanjutannya. Dan memang, ketika dirasanya batangku sudah cukup basah licin dia pun menarik lagi tubuhku berlutut dan kembali memasang vaginanya siap untuk kumasuki. Dalam keadaan seperti itu aku betul-betul sudah buntu pikiranku, terlupa bahwa dia adalah Bibi dari teman baikku. Rangsangan nafsu sudah menuntut kelelakianku untuk tersalurkan lewat dia.

Sehingga sekalipun Tante Yanti tidak lagi menyuruh dengan kata-katanya, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan. Ujung penis mulai kusesapkan di lubang vaginanya segera kuikuti dengan gerakan membor untuk menusuk lebih dalam. Tante sendiri meskipun mimik mukanya agak tegang, dia ikut membantu dengan jari-jari tangannya lebih menguakkan bibir vaginanya menjadi semakin menganga, untuk lebih memudahkan usaha masuk batangku. Tapi baru saja terjepit setengah, tiba-tiba Ganis datang mengganggu konsentrasi teristimewa bagi Tante Yanti. Si kecil yang belum mengerti apa-apa ini naik ke sofa langsung menunggangi perut Tante seolah-olah ingin ikut bergabung dengan kami.

“Nanti dulu Dek, Mama lagi mau di cuntik Mas Dony.. Adek maen dulu sana, ya?” agak kerepotan Tante membujuk Ganis untuk menyingkir dan kembali bermain, sementara aku sendiri tetap sibuk membor dan menggesek keluar masuk penisku untuk menanam sisa batang yang masih belum masuk.Di atas dia repot meredam kelincahan Ganis, sedang di bawah dia juga repot menyambut batangku. Sesekali merintih memintaku jangan terlalu kuat menyodokkan penisku.

“Aashh Maas.. pelan Mas.. cakit Mama Adek dicuntik keras-kerass..”
Untung berhasil Tante Yanti membujuk Ganis tepat pada saat seluruh batangku habis terbenam. Lega wajahnya ketika Ganis sudah mau turun kembali bermain.

“Naa, sekarang Mama Adek mau maen sama Mas Dony dulu, ya? Ayo Mas pindah ke bawah dulu, Mama Adek juga pengen ikutan ngerasain enaknya.” Tanpa melepas kemaluan masing-masing kami pun berpindah ke karpet, Tante Yanti yang di bagian bawah. Di situ begitu posisi terasa pas kami segera menikmati asyik gelut kedua kemaluan denganku memompa dan Tante Yanti mengocok vaginanya. Nikmat sanggama mulai meresap dan meskipun di tengah-tengah asyik itu Ganis juga sering datang mengganggu, tapi kami sudah tidak peduli karena masing-masing sedang berpacu menuju puncak kepuasan. Dan ini ternyata bisa tercapai secara bersamaan. Agak terganggu dengan adanya Ganis lagipula suasana kurang begitu bebas, tapi toh cukup memuaskan akhir permainan itu bagi kami berdua. Kelanjutan hubungan kami memang sulit mencari kesempatan yang lowong seperti itu lagi. Setelah yang pertama ini masih sempat dua kali kami melakukan hubungan badan tapi kemudian terputus.

Ada satu keasyikan tersendiri yang kurasakan jika sedang bercinta dengan Tante Yanti yang bertubuh montok ini. Enak rasanya bergelut dengan daging tebalnya, seperti menari-nari di atas kasur empuk berbantalkan susunya yang juga montok dan besar itu. Rasanya dalam sejarah percintaanku dengan para wanita yang kesemuanya cantik-cantik lagi berlekak-lekuk padat menggiurkan, maka cuma dengan dia satu-satunya yang berbeda. Tapi, inilah yang kusebut asyik tadi. Aku sama sekali tidak merasa menyesal dan justru selalu merindukan untuk mengulang kenangan bersama dia, hanya saja kesempatan sudah sulit sekali untuk didapat.

Kesempatan kali keempat kudapat tiga tahun setelah itu yaitu ketika aku diminta mengantar Tante Yanti untuk menghadiri upacara perkawinan seorang keluarga mereka di Semarang. Waktu itu rencananya aku hanya mengantar saja dan setelah acara selesai akan pulang langsung ke Bandung ke tempat kuliahku, tapi rupanya Tante Yanti berubah pikiran ingin pulang menumpang lagi denganku. Mau tak mau aku pun berputar melewati Jakarta untuk mengantarkan Tante Yanti ke rumahnya dulu sebelum ke Bandung. Tante memang rupanya tidak ingin berlama-lama dalam kunjungannya, itu sebabnya Ganis tidak diajak serta dan ditinggal bersama pembantu serta suaminya di rumah.

Begitu, dalam perjalanan yang cuma kami berdua di mobil kami pun ngobrol dengan akrab, dengan Tante Yanti yang lebih banyak bertanya-tanya tentang keadaanku sementara aku sendiri sibuk mengemudi. Sampai kemudian menyinggung tentang kegiatan seksku, Tante Yanti memang bisa menduga bahwa aku tentu sudah banyak pengalaman galang-gulung dengan perempuan.

“Ngomong-ngomong soal kita dulu kalo sekarang Dony udah kenal banyak cewek cakep pasti kamu nyesel kenapa bikin gitu sama Tante waktu hari itu, ya nggak Don?”
“Nyesel sih enggak Tan, gimanapun kan Tante yang pertama kali ngenalin rasa sama Dony. Apalagi Dony juga punya kenangan manis dari Tante.” jawabku menyinggung hubungan intimku waktu itu dengannya.
“Tapi itu kan duluu.. Sekarang dibanding-bandingin sama kenalan-kenalanmu yang lebih muda pasti kamu mikir-mikir lagi, kok mau-maunya aku sama Tante model gitu. Itupun waktu dulu, sekarang apalagi.. tambah nggak nafsu liatnya, ya nggak?”
Aku langsung menoleh dengan tidak enak hati.
“Jangan bilang gitu Tan, Dony nggak pernah nyesel soal yang dulu. Malah kalo masih boleh dikasih sih sekarang pun Dony juga masih mau kok.”
“Jangan menghibur, ngeliat apanya sama Tante kok berani bilang gitu?”
“Lho kenyataan dong.. Tante emang sekarang gemukan tapi manisnya nggak kurang. Malah tambah ngerangsang deh.” jawabku memuji apa adanya. Karena memang, sekalipun dia sekarang terlihat lebih gemuk dibanding dulu tapi wajahnya masih tetap terlihat manis. Baca selengkapnya!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerita Seks Tante Yanti Payudara Montok 2"

Posting Komentar